G I L A

22 01 2010

Cerpen Danang Febriansyah**

Dimuat di “Cerpen” Solo Pos dengan Judul “Edan” Minggu Pon, 12 November 2006)

 

Perlahan tapi pasti, apa yang disebut fikiran itu terus dan terus berkembang dengan sendirinya. Harusnya pemaksaan kehendak itu tak boleh terjadi, sebab fikiran memiliki mata dan sayap sendiri yang akan berkelana, mengembang dan mengepak agar menemukan kebebasan dan menemukan dirinya sendiri.

Maka bisakah seekor anak burung yang dikurung sejak lahir akan terbang? Apalagi seorang manusia. Dia hanya bisa berteriak-teriak demi mendapatkan sebuah pembebasan dari keterkekangan di tengah sawah. Inilah kesunyian dalam kegaduhan di dirinya. Di pematang sawah paling atas dia merentangkan tangannya dan menatap angkasa. Teriakannya menggoyang padi-padi yang masih menghijau.

Tak ada yang tahu apa yang bersembunyi dalam hatinya. Nampak hanya dia ingin mengoyak rantai-rantai kehidupan yang menghimpit segenap imajinasinya yang liar.

“Rasa sayang telah lenyap!”

Mejo, pemuda desa itu berjalan gontai seakan beban berat semakin ada dalam keranjang pikulannya. Sabit yang begitu tajam diselipkan di pinggangnya, rumput untuk makan kambing peliharaannya telah penuh dalam keranjang.

Pemuda Desa itu jengah.

Matahari telah condong ke barat. Setengah hari dia habiskan waktu di tengah hamparan persawahan. Menyabit rumput dari ujung selatan sawah hingga ujung utara. Beberapa bahu sawah telah dilewati untuk mendapatkan rumput. Untuk memenuhi dua keranjang besarnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan beberapa kambing peliharaannya.

Rasa panas membuatnya melepaskan caping dan mengipaskannya pada tubuhnya yang bersandar di bawah pohon turi. Ketika beban berat menyembul dalam ingatannya kembali. Dia hanya bisa berteriak keras, memenuhi persawahan itu.

Kini dia beranjak pulang dengan segenap rasa bosannya. Ingin dia seperti teman-teman sepermainannya dulu. Ke kota, mendapat uang, memakai celana jeans, sepatu kets, baju yang dimasukkan ke dalam celana, wajah yang menjadi bersih, rambut kelimis penuh minyak, dan tentunya tubuh yang wangi.

Dia ingin seperti itu. Sangat ingin!

“Siapa yang mengurus kambing-kambing itu?” Ibu Mejo tampak tak setuju ketika dia mengutarakan keinginannya itu.

“Apa simbok tak lihat betapa bersihnya si Sukar itu sekarang? baru satu tahun di kota penampilannya sudah berubah. Apa simbok selalu ingin melihat aku dekil dan dekil seperti ini terus?”

“Namanya orang desa itu ya begini, ngurus sawah, ngurus kambing. Kalau kamu pergi siapa juga yang ngurus simbok yang sudah tua ini dan sawah kamu yang hanya sepetak itu?”

“Kan kita bisa nyambat tetangga mbok?”

Wis lah le, ra sah neko-neko. Orang kota nanti tak bisa makan kalau tak ada yang ngurus sawah.”

Tampak perempuan renta tidak mau lagi berdebat dengannya. Lalu beranjak ke kamar tidur. Sementara dia masih tepekur di depan lampu ublik yang nyalanya makin mengecil. Seperti harapannya yang juga tampaknya makin kecil dan berakhir padam.

“Simbok selalu memaksaku. Aku tak bisa menentukan jalanku sendiri, dia memang sudah tak sayang padaku,” katanya dalam hati sambil menatap ublik yang apinya mobat-mabit ditiup angin malam yang berhembus dari lubang dinding bambu rumahnya.

Hingga rasa bahwa dia terkekang sejak bapak mati duapuluh dua tahun lalu itu tumbuh ke permukaan. Bapak mati ketika dia masih berumur lima tahun, sejak itu simbok tidak pernah mau menikah lagi, meski sudah dibujuk saudara-saudara simbok yang lain. Dia tidak ingin anak satu-satunya dimiliki oleh bapak yang lain. Simbok sangat mencintai bapak. Kesetiaannya berlanjut hingga saat ini. Sebagai imbasnya, simbok terlalu melindunginya, hingga dia sangat merasa tertekan, tak bisa mengembangkan sayap. Ibunya itu menjadi begitu galak. Dia sangat memaksakan kehendaknya, hingga dengan sangat terpaksa anaknya yang beranjak dewasa itu harus menurutinya. Di samping itu simbok tak pernah mau mengungkapkan alasan kenapa bapak mati. Padahal dia ingin tahu. Sebagai sebuah remisi sejenak adalah berteriak di tengah sawah ketika dia mencari rumput.

Hanya ada rasa iri ketika lebaran datang, melihat teman-temannya dulu pulang dari perantauan mereka di kota dan telah berubah drastis. Ditambah gadis desa yang pernah disukainya dulu kini telah membawa laki-laki dari kota yang katanya calon suaminya dan sehabis lebaran mereka akan menikah. Betapa hambar hidup ini ketika cita-cita yang sangat diharapkannya tak pernah tergapai.

“Ayo Jo, ikut ke kota saja. Aku jamin hidupmu pasti berubah,” bujuk Sukar sehabis sholat tarawih di mushola desanya. “Apa kamu nggak kepingin dapat uang? Terus di sana, ceweknya cantik-cantik, tinggal pilih saja,” tambah Sukar yang membuatnya makin tak betah tinggal di rumah.

“Bagaimana ya Kar?”

“Bagaimana apanya? Tiga hari sehabis lebaran, aku berangkat. Tempatku kerja masih ada lowongan.”

“Ya aku pikir-pikir dulu deh. Tapi lowongan itu jangan berikan pada orang lain dulu ya?”

Betapa berbedanya Sukar sekarang dengan Sukar setahun yang lalu. Betapa inginnya dia seperti Sukar. Dia ingin bebas dari rumput, dari sabit, dari sawah dan dari kambing. Betapa inginnya dia memakai celana jeans, sepatu kets dan minyak wangi. Betapa inginnya dia naik Bus!

Tapi segala harapannya dijegal oleh seorang. Seorang yang memberinya makan, seorang yang perintahnya tak bisa dia tolak. Seorang yang sangat dia sayangi dan dia hormati. Seorang ibu yang dia panggil simbok.

“Tapi kali ini aku harus lepas dari bayang-banyang simbok. Aku sudah dua puluh tujuh tahun. Sudah besar. Aku mau ke kota.”

Dan ublik di depannya kehabisan minyak. Padam.

 

* * *

 

“Kamu ngeyel yo? Hidup itu ya begini adanya, mau dekil, mau tidak, mau hidup di kota atau di desa, itu sudah digariskan Sing Gawe Urip. Kebaikan seseorang itu tak dilihat penampilannya. Yang penting kamu tetap di jalan lurus, baru hidupmu bermakna. Kamu tidak usah iri dengan teman-temanmu. Belum tentu kamu di kota akan mendapat kerja yang lebih baik. Pokoknya simbok nggak setuju!” alis simbok bertaut menambah keriputnya. Panjang lebar dia menelanjangi fikiran anaknya dengan wejangan. Mejo hanya menunduk. Tas ransel yang telah berisi bekal untuk pergi ke kota setia di samping kursi tempat dia duduk, tiga hari setelah puasa tahun ini.

“Tapi mbok…”

“Tapi apa? Kalau kamu rela hidup simbok makin menderita setelah kematian bapak kamu. Ya silahkan pergi!” ancam ibu Mejo.

“Bukan begitu mbok, aku hanya ingin hidup kita berubah lebih baik. Aku nggak mau terus-terusan miskin seperti ini. Aku ingin punya banyak duit, biar bisa beli sawah lagi, beli sapi, memperbaiki rumah. Pokoknya aku yakin bisa jauh lebih baik kehidupan kita jika aku kerja di kota,” katanya berdalih, “Mbok, bagaimanapun juga aku pergi hari ini. Sukar sudah menungguku, aku pergi mbok. Doakan ya…” akhirnya dia beranjak pergi, tak mau berdebat lagi.

Simbok hanya diam, pandangannya kosong, matanya berkaca-kaca, entah apa yang membebaninya. Pandangan perempuan tua itu tetap tertuju keluar rumah ketika tangan keriputnya dicium Mejo. Pandangan yang penuh beban kehampaan.

Lalu dia pastikan langkah pergi ke kota. Sebenarnya dia juga merasa berat meninggalkan simbok. Dia sadar, siapa yang membesarkannya selama ini, hanya simbok seorang, tanpa bapak di sampingnya. Dia sangat menyanyangi ibunya meski apa yang dia lakukan selalu dimata-matai. Tapi dia sadar, semua itu disebabkan karena simbok sangat tak ingin kehilangannya. Dia juga sangat tak ingin kehilangan ibunya yang sudah renta itu.

Sukar telah lama menunggu di jalan. Lalu mereka berjalan ke arah pos ojek untuk dilanjutkan ke terminal bus yang jaraknya sekitar lima belas kilo meter dari desa.

Baru sekali ini dia naik bus. Sungguh!

 

* * *

 

Seperti sebuah keajaiban, ketidak relaan orang tua itu membuatnya berubah dengan sangat telak, setahun kemudian. Ketika lebaran menjelang, dia pulang dan membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik setelah kerja di kota.

Mejo memang menjadi seorang yang lain. Seorang dengan penampilan seperti yang diinginkannya setahun yang lalu, cita-citanya untuk memakai sepatu, celana jeans, rambut kelimis dan minyak wangi, semua telah tercapai.

Lebaran tahun ini dia berencana pulang. Menjenguk ibunya yang setahun ini tak diketahui kabarnya, karena sibuk oleh pekerjaan dan dia tak ingin terganggu jika harus mengetahui keadaan rumah. Tak pernah dia memberitahu keluarganya dimana dia kerja, karena dia tak ingin ada surat yang berisi betapa rindunya ibunya dengan dirinya. Dia ingin kerja dan kerja, membelikan sapi untuk simbok, membeli sawah sepetak lagi dan sedikit dapat memperbaiki rumahnya. Semua mengerucut menjadi satu tujuan, agar simbok bahagia di hari tuanya.

Senyum yang mengembang seketika musnah seketika sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di rumah. Selain rumah yang makin reot, kandang kambing di depan rumah juga tak ada lagi penghuninya. Rumput-rumput liar bebas tumbuh di halaman dan tepi-tepi rumah. Dilihat rumah itu benar-benar tak terawat.

Mejo mengitari rumahnya tapi tak ditemukan juga tanda-tanda kehidupan. Akhirnya dia masuk rumah. Ketika membuka pintu depan, debu-debu beterbangan keluar seakan telah lama terpenjara. Ruang dalam rumah itu gelap, tapi samar pandangannya hanya tertuju pada sosok yang duduk di sudut ruangan.

Dan seakan semua hasil yang dibawanya dari kota tak ada artinya ketika tahu seorang itu adalah ibunya, ibu yang dipanggilnya simbok. Tas ransel di punggungnya dihempaskannya ke tanah lantai rumah. Dia segera menghambur.

Betapa makin tak karuannya penampilan simbok kali ini. Apa yang menyebabkannya begini. Dua kakinya terkunci pada balok kayu. Kain yang dipakainya sungguh kumal. Kebaya robek di sana-sini dengan warna yang sungguh-sungguh kusam. Rambutnya yang gimbal makin memutih dan acak-acakan. Kulit dekil dan mengeluarkan bau yang busuk. Pandangannya kosong seperti pandangan ketika Mejo pamit akan kerja di kota. Bedanya, pandangan simbok kali ini adalah semakin kosong. Pasrah pada beban yang makin menghimpitnya. Tak memperhatikan kedatangan Mejo.

“Mbok…” Mejo menyalami tangan ibunya yang dirantai dan menciuminya tanpa mempedulikan aroma bangkai yang menusuk. “Kenapa, jadi begini? Apa yang menyebabkan simbok dirantai seperti ini?” Mejo mencoba melepaskan ikatan rantai di tangan ibunya, tapi ikatan itu digembok dengan kuat.

“Simbokmu edan,” seorang tetangganya telah berdiri di pintu depan. “Semuanya terjadi karena kamu.”

Seperti sebuah pukulan benda yang amat berat menyesakkan dadanya. Semua terjadi karena dirinya. Mengapa? Mejo mendekati orang itu.

“Karena saya?”

“Dia murung semenjak kepergianmu, dan semakin hari dia semakin enggan mengurus dirinya sendiri, tertawa-tertawa dan kadang marah-marah tanpa sebab yang menyebabkan tetangga terganggu bahkan terancam. Akhirnya tetangga-tetangga memutuskan membawanya ke tempat mbah Karyo biar diberi japa mantra, tapi sampai lima kambing ditambah sepetak sawah kamu dijual, tak juga membuatnya sembuh, malah dia makin menjadi dan ngamuk tak karuan, karena makin membahayakan tetangga, akhirnya kami putuskan untuk mengurungnya dengan cara seperti ini.”

“Dengan cara tak manusiawi begini?”

“Maaf, itu terjadi karena dorongan orang-orang yang merasa takut dengan berubahnya mbokmu itu. Di samping itu dia ternyata masih trauma dengan kematian bapak kamu.”

“Bapak saya mati kenapa?”

“Dia mati di kota sejak kamu masih lima tahun, mayatnya ditemukan membusuk di tempat sampah.”

Air mata Mejo setitik demi setitik mengalir perlahan. Kenyataan yang baru diketahuinya, alasan mengapa simbok begitu melindunginya, alasan kenapa simbok tak merelakan dia pergi merantau. Kenyataan yang baru disadarinya bahwa ternyata ibunya sangat menyanyanginya.

“Tolong lepaskan dia.”

“Apa jaminan kalau dia tidak akan mengganggu tetangga?”

“Aku,” Mejo lalu menangis dan bersimpuh di hadapan simboknya.

 

* * *

 

“Semoga simbok cepat kembali,” kata Mejo sehabis sholat idul fitri. Dia yang bersimpuh penuh harap di hadapan ibunya yang duduk di kursi dengan pandangan yang kosong, di bawah pohon rindang di sebuah rumah sakit jiwa.

Rumah sakit ini menjadi harapan baginya untuk bisa membuat ibunya kembali. Kerinduan akan perlindungan berlebihan dari ibunya membuatnya makin ingin menghormati segenap perintah orang tua yang tinggal satu-satunya itu. Apa yang didapatkan dari kota, semuanya hanya untuk membuat ibunya dapat kembali.

Pandangan ibunya masih tetap kosong, hanya pakaiannya kini lebih terawat, rambut penuh uban menjadi rapi. Air matanya menetes. Mejo tak tahu apa artinya, air mata ibunya itu hanya menyebabkan haru yang mendalam dan mengakibatkan dia juga ikut menangis.

Penyesalan semua terlahir di akhir kebijakan. Kenapa simbok mengutuk dirinya sendiri? Kenapa simbok tidak mengutuknya seperti legenda Malin Kundang?

Perlahan tapi pasti, apa yang disebut fikiran itu terus dan terus berkembang dengan sendirinya. Tapi, kenapa simbok bukan mengembangkannya? Kenapa dia harus menghempaskan dirinya sendiri? Menghempaskan bahkan sampai pada dasar keterpurukan hidup.

Tuhan, maafkan aku …

 

Kamis, 15 Juni 2006 14.35 WIB

** Danang Febriansyah adalah salah satu Generasi Muda Masjid Arrohman.Beliau adalah salah satu perintis terbentuknya GEMMA pada tahun 2000-an. Hobinya adalah tulis menulis., dan pernah mengikuti pelatihan bersama FLP Solo


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: